The twenty-something are not alright

Bagaimana rasanya menjadi manusia berumur dua-puluhan (twenty-something)? tanya saya pada diri sendiri. Haruki Murakami pernah menceritakan bagaimana rasanya memasuki umur dua puluh lewat salah satu tokohnya dalam novel Norwegian Wood. Dalam buku tersebut Murakami menulis: “ ‘Umur 20 tahun itu rasanya konyol juga ya,’ kata Naoko. ‘Aku sama sekali tidak siap memasuki usia ke-20 ini. Rasanya aneh sekali. Seperti didorong-dorong secara paksa.’ ‘Kalau aku masih ada tujuh bulan lagi, jadi akan mempersiapkan pelan – pelan,’ kataku tertawa. ‘Enak ya masih sembilan belas,’ Naoko berujar dengan nada iri.” Entah kenapa menjadi seseorang berumur dua puluh an dirasa begitu mengerikan, seolah ‘didorong-dorong secara paksa.’ Bahkan butuh waktu untuk ‘mempersiapkan pelan – pelan,’.

Taylor Swift pun bingung bukan main saat merasakan dirinya berada di umur dua puluhan. We’re happy, free, confused, and lonely at the same time. It’s miserable and magical. Katanya, dalam lagu 22. Ambivalen. Begitupun yang saya rasakan.

Bagi saya umur dua-puluhan itu fase yang membingungkan. Membawa saya pada keadaan ambivalen, segalanya terasa bersemangat sekaligus membuat ngeri dan tertekan. Ada perasaan takut dan ragu. Menjadi sering memikirkan dan mempertanyakan banyak hal. Tentang diri, siapa saya, mau kemana saya; tentang bagaimana cara berhubungan sosial dengan orang lain; tentang kesendirian, perasaan kosong; tentang kebebasan memilih pilihan sendiri yang padahal tidak benar-benar dipilih sediri juga; tentang tuhan, agama, dan kultur dimana saya ada di dalamnya

Ternyata perasaan ini tidak saya rasakan sendirian. Seorang teman baik pun pernah mengeluhkan kebingungan saat berada di umur duapuluhan yang brengsek ini. Kenapa? karena semakin tambah umur aku mulai sadar bahwa ada beberapa hal yang tetap dibawah kontrol orang dewasa dan sekitar. Mikir hidup yang gini-gini aja tanpa tujuan jelas dan mboh gimana. Teman baik itu adalah Niki.

Teman saya yang lain juga pernah menceritakan hal tersebut. Namanya Madun. Dia bilang: Aku merasa bingung dengan apa yang akan aku lakukan dengan hidupku. Tapi menurutku itu semacam fase yang harus kita jalani, deh. Harusnya kita tetap positif aja sih, ya meskipun aku belum bisa kaya gitu, katanya, kemudian tertawa. Karena petuah sok bijak yang ia bela ternyata tak bisa ia lakoni juga.

Dandy Gilang, juga pernah menceritakan kebrengsekan tahap duapuluhan ini dalam salah satu lagunya. Lagu itu ia beri judul twenty something. Di dalam notes mini album yang dapat diunduh bebas di kanal Yes No Wave/Tsefula itu ia menceritakan sedikit mengenai rasanya mengalami umur duapuluhan.

Basicly, EP ini bercerita tentang drama, dilema, dan masalah saat saya atau bahkan kita mulai tumbuh atau grow up, pada posisi dimana kita sudah terlalu tua untuk bertindak ceroboh dan semaunya tetapi juga belum cukup tua untuk melakukan hal telalu serius atau dewasa, …

Hidup di umur duapuluhan memang sulit dan mungkin masa depan akan jauh lebih sulit. Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Pertanyaan ini membuat saya teringat pada sebuah video wawancara yang diunggah oleh BBC Radio 4. Video tersebut memuat jawaban atas pertanyaan: what advice would you give to your younger-self? Dan salah satu jawaban dari perempuan dalam video tersebut adalah: stop stressing so much, just stay true to you and … clean your room. Dan jika membersihkan kamar saja masih begitu sulit, maka berlatihlah. Sebab thirty-something konon jauh lebih susah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s