[Ahmad Sahal] Cultural Studies dan Tersingkirnya Estetika*

Dewasa ini, banyak orang mengkaji dan membaca sastra, tetapi sesungguhnya mereka mengabaikan sastra. Dalam mengkaji sastra, mereka tidak seperti kalangan kritikus yang melihat sastra sebagai medium kesenian yang bernilai pada dirinya sendiri. Karena di mata mereka, sastra hanyalah suatu teks budaya atau dokumen sosial yang mengandung – di baliknya atau di luarnya – praktek-praktek penandaan (signifying practices) yang selalu merupakan hubungan kekuasaan yang timpang. Dan, sastra dikaji dengan kepentingan menyingkap bekerjanya kontestasi kuasa dalam setiap praktek penandaan itu.

Dalam membaca sastra, mereka tidak tertarik untuk mendapatkan jouissance, suatu kenikmatan tekstual yang muncul karena kemelimpahan makna dan eksplorasi bentuk, juga ketakterdugaan metafor dan imaji yang lazimnya disediakan oleh teks sastra. Karena pembacaan mereka terhadap sastra selalu bersifat “politis”, bukan dalam arti kuno seperti dislogankan Lekra, yakni mengabdikan sastra untuk partai atau menjadikan politik sebagai panglima, melainkan dalam arti melihat karya sastra sebagai representasi sosial. Dalam representasi, selalu ada suara dominan dan suara tertekan. Agenda politik di sini berarti melucuti suara dominan dan memberdayakan suara tertekan.

Dalam pandangan mereka, sastra sebagai dokumen sosial bahkan tidak lebih tinggi atai lebih penting dari dokumen sosial lain, semisal praktek kehidupan sehari0hari (everyday practice) yang ditawarkan oleh budaya massa dan budaya media. Apa yang disebut nilai-nilai keindahan yang menjadikan teks sastra selama ini diletakkan dalam posisi high culture ternyata hanyalah suatu konstruksi sosial, bukan sesuatu yang alamiah. Posisi yang adiluhung dalam budaya adalah hasil pemaksaan selera dan cita rasa kelas sosial tertentu yang dominan. Mungkin persisnya bukan pemaksaan, melainkan hegemoni. Pemaksaannya tidak berlangsung dengan kekerasan melainkan dengan bujukan dan kesukarelaan, yang ditutup-tutupi atau dilupakan sehingga selera dan cita rasa kelas tertentu itu seolah-olah merupakan nilai universal yang bernama keindahan. Jadi teks sastra sejatinya sama nilainya dengan karya pop, tajuk rencana Kompas, jingle iklan, lirik lagu dangdut atau naskah sinetron Paulina.

Yang saya maksud “mereka” dalam dua alinea pertama tulisan ini adalah para pendukung cultural studies. Di negeri-negeri utara, cultural studies tak pelak merupakan fenomena penting dan kontroversial dalam dunia akademis, terutama bidang humanities selama kurang lebih tiga dekade terakhir. Bukan saja lantaran ia adalah “gerakan akademis” yang multi-disipliner (melibatkan sastra, sejarah, antropologi dan filsafat sekaligus), melainkan juga melampaui dinding disiplin ilmu, bahkan dinding akademis. Pretensinya bukanlah kajian-kajian yang steril yang selama ini tampak dalam disiplin akademis yang ada, melainkan kajian yang berwatak emansipasi, yakni berpihak kepada yang terpinggirkan dan tak tersuarakan (the subaltern) – baik dari segi kelas sosoal, ras, maupun gender – dalam kanon resmi suatu kebudayaan.

Dan karena kanon resmi ditentukan oleh mereka yang borjuis, berkulit putih, dan laki-laki, berpusat-Barat dan berwatak logo-sentris, maka aksentuasi pemihakan terhadap “yang lain” (the other) dalam cultural studies tercermin dalam kajian yang merayakan difference dan pluralisme, seperti kajian postkolonial, multikultural, juga kajian feminis, gay dan lesbian, etnik dan kulit berwarna. Nama-nama luar negeri seperti Edward Said, Homi Bhabha, Gayatri Spivak, juga Raymond Williams dan Michel Foucault, serta nama-nama dalam negeri seperti Melani Budianta dan Ariel Haryanto merupakan pendukung, atau setidaknya sering dihubung-hubungkan, dengan cultural studies ini.

Continue reading “[Ahmad Sahal] Cultural Studies dan Tersingkirnya Estetika*”

Merenungi Kelas Pekerja Bersama Fleet Foxes

“I was raised up believing I was somehow unique,
Like a snowflake distinct among snowflakes
Unique in each way you can see.
And now after some thinking, I’d say I’d rather be:
A functioning cog in some great machinery;
serving something beyond me.” 

– Helplessness Blues, Fleet Foxes  

Dalam salah satu esai pada buku Lokasi Tidak Ditemukan, Taufiq Rahman mendedahkan betapa para pop star dunia sedang terkena wabah narsistik. Esai itu dibuka dengan sebuah penelitian dari University of Kentucky yang menunjukkan bahwa lagu-lagu populer selama 3 dekade terakhir ini lebih banyak menggunakan kata I atau me dan penggunaan kata we atau us yang semakin menurun. Penelitian ini menekankan bahwa: lagu-lagu itu kebanyakan hanya bercerita mengenai satu manusia istimewa, yaitu penyanyi itu sendiri.

Taufiq menyebutkan manusia-manusia istimewa itu, mulai dari Justin Timberlake, BlackEyed Peas, Beyonce hingga Lady Gaga. Namun ia membuat semacam anti-tesis untuk menolak self-empowermentyang sering diagung-agungkan penyanyi tersebut. Anti-tesis itu adalah Fleet Foxes lewat salah satu lagunya, Helplessness Blues. Jika Taufiq sudah terlebih dahulu membahas lagu ini dengan tafsiran personal, maka saya pun ikut nimbrung menafsir Helplessness Blues versi saya sendiri.

Robin Pecknold boleh dikata nyinyir dalam lagu ini, seakan menampar wajah-wajah mereka yang terlanjut terjangkit wabah narsistik, dengan pesimisme-nya. Bayangkan, jika Lady Gaga, dalam lagu Born This Way,  menganggap setiap orang terlahir menjadi superstar, maka Robin, setelah beberapa kali berpikir, menyimpulkan bahwa kita adalah: a functioning cog in some great machinery! Kita hanyalah gerigi dari mesin-mesin raksasa, yang hanya difungsikan untuk melayani sesuatu yang melampaui diri kita.

Continue reading “Merenungi Kelas Pekerja Bersama Fleet Foxes”

[Seno Gumira Ajidarma] Kalacitra

“Lihat, ini saya,” kata seseorang. Padahal yang ditunjuknya adalah sebuah foto, selembar kertas, bukan dirinya. Bagaimanakah fotografi diterima sebagai representasi realitas? Berikut adalah pandangan tentang foto dalam berbagai bentuk ekspresi: film, puisi, dan roman.

***

Fotografi dipertanyakan oleh sebuah film. Itulah Blow-Up (1966) karya Michelangelo Antonioni. Film itu menggugat fotografi secara radikal, melalui kisah seorang fotografer bernama Thomas yang terperangkap ke dalam teka-teki dari fotonya sendiri. Mula-mula ia memotret pasangan berpacaran di sebuah taman yang luas dan kosong.Sebelum mencetak fotonya, ia melaporkan kepada seorang redaktur, bahwa ia telah memotret pemandangan puitis yang “sangat damai, sangat tenang”. Namun ketika Thomas mencetak sendiri foto tersebut, dab melakukan pembesaran (blow-up), ia melihat betapa jauh di semak-semak terdapat sesosok manusia yang memegang pistol. Pada saat Thomas memotret, Jane, perempuan yang dipotretnya marah karena privacy-nya terganggu dan mengejar Thomas untuk meminta filmnya. Jadi, Thomas melapor lagi kepada sang redaktur bahwa ia telah menyelamatkan seseorang dari pembunuhan. Dengan begitu, sudah ada dua pendapat yang berbeda, masing-masing dari realitas teramati (mata Thomas) dan representasi realitas (foto Thomas), yang belakangan ini lebih mendekati realitas ketimbang yang sebelumnya.

Ternyata masih ada yang ketiga. Dalam pembesaran foto yang lain, di semak-semak lain, Thomas melihat sesosok mayat. Itulah pasangan Jane. Karena penasaran, Thomas kembali ke taman. Memang mayat itu ada di sana. Maka pulanglah ia, dengan kesimpulan ketika: bukan menyelamatkan, malah memberi peluang terjadinya pembunuhan. Kejadiannya pasti ketika Jane meninggalkan pasangannya dan mengejar Thomas. Waktu ia sampai kembali ke studionya, tempat itu sudah diobrak-abrik dan seluruh negatif maupun positif fotonya telah menghilang. Ia melapor lagi kepada sang redaktur, yang kali ini hanya mau percaya kalau ada fotonya. Thomas pun kembali ke taman. Tetapi mayat itu sudah menghilang.

Continue reading “[Seno Gumira Ajidarma] Kalacitra”

The twenty-something are not alright

Bagaimana rasanya menjadi manusia berumur dua-puluhan (twenty-something)? tanya saya pada diri sendiri. Haruki Murakami pernah menceritakan bagaimana rasanya memasuki umur dua puluh lewat salah satu tokohnya dalam novel Norwegian Wood. Dalam buku tersebut Murakami menulis: “ ‘Umur 20 tahun itu rasanya konyol juga ya,’ kata Naoko. ‘Aku sama sekali tidak siap memasuki usia ke-20 ini. Rasanya aneh sekali. Seperti didorong-dorong secara paksa.’ ‘Kalau aku masih ada tujuh bulan lagi, jadi akan mempersiapkan pelan – pelan,’ kataku tertawa. ‘Enak ya masih sembilan belas,’ Naoko berujar dengan nada iri.” Entah kenapa menjadi seseorang berumur dua puluh an dirasa begitu mengerikan, seolah ‘didorong-dorong secara paksa.’ Bahkan butuh waktu untuk ‘mempersiapkan pelan – pelan,’.

Taylor Swift pun bingung bukan main saat merasakan dirinya berada di umur dua puluhan. We’re happy, free, confused, and lonely at the same time. It’s miserable and magical. Katanya, dalam lagu 22. Ambivalen. Begitupun yang saya rasakan.

Continue reading “The twenty-something are not alright”

Mengimani Punk dan Ucok

“Saya kenal baik dengan Ucok dari Homicide, dia adalah penulis yang rajin,” cerita Taufiq Rahman pemilik label dan penerbit Elevation, saat diwawancarai oleh Whiteboard Journal. Pada wawancara itu pula ia menceritakan mengenai debut kumpulan tulisan Herry Sutresna atawa sering dipanggil Ucok. Buku itu berjudul Setelah Boombox Usai Menyalak.

Taufiq mendedahkan, hanya butuh waktu satu bulan hingga naskah kumpulan tulisan musik paling ramai dibicarakan itu (setidaknya bagi saya), siap dicetak. Itu karena Ucok memiliki banyak arsip tulisan sehingga Taufiq hanya perlu melakukan kurasi dan penyuntingan aksara. Taufiq pun masih melanjutkan cerita, “Dan, layaknya apapun yang dirilis Ucok, excitement-nya selalu tinggi. Kalau Anda mengalami bagaimana orang mengantisipasi rilisan Ucok, itu sering tidak masuk akal.”

Continue reading “Mengimani Punk dan Ucok”

The Big Ship

Setiap dengar The Big Ship jadi ingat ending dari film The End of the Tour, film yang menceritakan ketika David Foster Wallace ditemani David Lipsky, (yang adalah reporter majalah Rolling Stone) melakukan tur di Amerika. Lalu ada sedih. Tapi, jika sebelumnya tidak melihat film ini pun saya akan tetap sedih mendengarnya. Seperti diseret pada sesuatu yang sulit, yang mengambang sekaligus dalam, yang membingungkan, sesuatu yang membuat saya harus menghela nafas panjang.

Di akhir cerita film tersebut David Lipsky membacakan obituarinya di hadapan orang banyak atas kematian David yang tiba-tiba menggantung dirinya. Soundtrack di akhir film tersebut adalah lagu ini, kemudian bayangan David Foster Wallace ketika masih hidup muncul dengan efek slow motion, ia menari dengan senangnya di sebuah bar, dan tentu saja dengan bandana yang selalu melekat di kepalanya.

Sambil mengusap air matanya, David Lipsky berkata;

When i think on this trip, I see David and me in the front seat of his car. We are both so young. He want something better than he has. I want precisely what he has already. Neither of us know where our lives are going to go. It smells like chewing tobacco, soda, and smoke. And the conversation is the best one I ever had. David thought that book existed to stop you from feeling lonely. If I could, I’d say to David that living those days with him reminded me of what life is like, instead of being a relief from it. And I’d tell him it made me feel much less alone.

Dalam buku the Pale King, David Foster Wallace menulis tentang lagu The Big Ship (yang saya salin dari esai Taufiq Rahman) sebagai berikut;

Lagu ini membuat saya merasakan kehangatan dan rasa aman, seperti ada dalam selimut, seperti seorang anak kecil baru dientaskan dari mandi dan terbungkus dalam handuk yang begitu sering dicuci sehingga terasa sangat halus, dan pada saat yang sama merasakan kesedihan; ada semacam kekosongan di pusat kehangatan itu, sama seperti kekosongan di gereja atau ruang kelas dengan begitu banyak jendela sampai Anda bisa melihat hujan di jalan dan merasa sedih, seperti di pusat kenyamanan ini ada benih kekosongan

Apa kabar, David? Benarkah ada kehidupan setelah kematian?