[Seno Gumira Ajidarma] Kalacitra

“Lihat, ini saya,” kata seseorang. Padahal yang ditunjuknya adalah sebuah foto, selembar kertas, bukan dirinya. Bagaimanakah fotografi diterima sebagai representasi realitas? Berikut adalah pandangan tentang foto dalam berbagai bentuk ekspresi: film, puisi, dan roman.

***

Fotografi dipertanyakan oleh sebuah film. Itulah Blow-Up (1966) karya Michelangelo Antonioni. Film itu menggugat fotografi secara radikal, melalui kisah seorang fotografer bernama Thomas yang terperangkap ke dalam teka-teki dari fotonya sendiri. Mula-mula ia memotret pasangan berpacaran di sebuah taman yang luas dan kosong.Sebelum mencetak fotonya, ia melaporkan kepada seorang redaktur, bahwa ia telah memotret pemandangan puitis yang “sangat damai, sangat tenang”. Namun ketika Thomas mencetak sendiri foto tersebut, dab melakukan pembesaran (blow-up), ia melihat betapa jauh di semak-semak terdapat sesosok manusia yang memegang pistol. Pada saat Thomas memotret, Jane, perempuan yang dipotretnya marah karena privacy-nya terganggu dan mengejar Thomas untuk meminta filmnya. Jadi, Thomas melapor lagi kepada sang redaktur bahwa ia telah menyelamatkan seseorang dari pembunuhan. Dengan begitu, sudah ada dua pendapat yang berbeda, masing-masing dari realitas teramati (mata Thomas) dan representasi realitas (foto Thomas), yang belakangan ini lebih mendekati realitas ketimbang yang sebelumnya.

Ternyata masih ada yang ketiga. Dalam pembesaran foto yang lain, di semak-semak lain, Thomas melihat sesosok mayat. Itulah pasangan Jane. Karena penasaran, Thomas kembali ke taman. Memang mayat itu ada di sana. Maka pulanglah ia, dengan kesimpulan ketika: bukan menyelamatkan, malah memberi peluang terjadinya pembunuhan. Kejadiannya pasti ketika Jane meninggalkan pasangannya dan mengejar Thomas. Waktu ia sampai kembali ke studionya, tempat itu sudah diobrak-abrik dan seluruh negatif maupun positif fotonya telah menghilang. Ia melapor lagi kepada sang redaktur, yang kali ini hanya mau percaya kalau ada fotonya. Thomas pun kembali ke taman. Tetapi mayat itu sudah menghilang.

Continue reading “[Seno Gumira Ajidarma] Kalacitra”

Mengimani Punk dan Ucok

“Saya kenal baik dengan Ucok dari Homicide, dia adalah penulis yang rajin,” cerita Taufiq Rahman pemilik label dan penerbit Elevation, saat diwawancarai oleh Whiteboard Journal. Pada wawancara itu pula ia menceritakan mengenai debut kumpulan tulisan Herry Sutresna atawa sering dipanggil Ucok. Buku itu berjudul Setelah Boombox Usai Menyalak.

Taufiq mendedahkan, hanya butuh waktu satu bulan hingga naskah kumpulan tulisan musik paling ramai dibicarakan itu (setidaknya bagi saya), siap dicetak. Itu karena Ucok memiliki banyak arsip tulisan sehingga Taufiq hanya perlu melakukan kurasi dan penyuntingan aksara. Taufiq pun masih melanjutkan cerita, “Dan, layaknya apapun yang dirilis Ucok, excitement-nya selalu tinggi. Kalau Anda mengalami bagaimana orang mengantisipasi rilisan Ucok, itu sering tidak masuk akal.”

Continue reading “Mengimani Punk dan Ucok”