Merenungi Kelas Pekerja Bersama Fleet Foxes

“I was raised up believing I was somehow unique,
Like a snowflake distinct among snowflakes
Unique in each way you can see.
And now after some thinking, I’d say I’d rather be:
A functioning cog in some great machinery;
serving something beyond me.” 

– Helplessness Blues, Fleet Foxes  

Dalam salah satu esai pada buku Lokasi Tidak Ditemukan, Taufiq Rahman mendedahkan betapa para pop star dunia sedang terkena wabah narsistik. Esai itu dibuka dengan sebuah penelitian dari University of Kentucky yang menunjukkan bahwa lagu-lagu populer selama 3 dekade terakhir ini lebih banyak menggunakan kata I atau me dan penggunaan kata we atau us yang semakin menurun. Penelitian ini menekankan bahwa: lagu-lagu itu kebanyakan hanya bercerita mengenai satu manusia istimewa, yaitu penyanyi itu sendiri.

Taufiq menyebutkan manusia-manusia istimewa itu, mulai dari Justin Timberlake, BlackEyed Peas, Beyonce hingga Lady Gaga. Namun ia membuat semacam anti-tesis untuk menolak self-empowermentyang sering diagung-agungkan penyanyi tersebut. Anti-tesis itu adalah Fleet Foxes lewat salah satu lagunya, Helplessness Blues. Jika Taufiq sudah terlebih dahulu membahas lagu ini dengan tafsiran personal, maka saya pun ikut nimbrung menafsir Helplessness Blues versi saya sendiri.

Robin Pecknold boleh dikata nyinyir dalam lagu ini, seakan menampar wajah-wajah mereka yang terlanjut terjangkit wabah narsistik, dengan pesimisme-nya. Bayangkan, jika Lady Gaga, dalam lagu Born This Way,  menganggap setiap orang terlahir menjadi superstar, maka Robin, setelah beberapa kali berpikir, menyimpulkan bahwa kita adalah: a functioning cog in some great machinery! Kita hanyalah gerigi dari mesin-mesin raksasa, yang hanya difungsikan untuk melayani sesuatu yang melampaui diri kita.

Continue reading “Merenungi Kelas Pekerja Bersama Fleet Foxes”

The Big Ship

Setiap dengar The Big Ship jadi ingat ending dari film The End of the Tour, film yang menceritakan ketika David Foster Wallace ditemani David Lipsky, (yang adalah reporter majalah Rolling Stone) melakukan tur di Amerika. Lalu ada sedih. Tapi, jika sebelumnya tidak melihat film ini pun saya akan tetap sedih mendengarnya. Seperti diseret pada sesuatu yang sulit, yang mengambang sekaligus dalam, yang membingungkan, sesuatu yang membuat saya harus menghela nafas panjang.

Di akhir cerita film tersebut David Lipsky membacakan obituarinya di hadapan orang banyak atas kematian David yang tiba-tiba menggantung dirinya. Soundtrack di akhir film tersebut adalah lagu ini, kemudian bayangan David Foster Wallace ketika masih hidup muncul dengan efek slow motion, ia menari dengan senangnya di sebuah bar, dan tentu saja dengan bandana yang selalu melekat di kepalanya.

Sambil mengusap air matanya, David Lipsky berkata;

When i think on this trip, I see David and me in the front seat of his car. We are both so young. He want something better than he has. I want precisely what he has already. Neither of us know where our lives are going to go. It smells like chewing tobacco, soda, and smoke. And the conversation is the best one I ever had. David thought that book existed to stop you from feeling lonely. If I could, I’d say to David that living those days with him reminded me of what life is like, instead of being a relief from it. And I’d tell him it made me feel much less alone.

Dalam buku the Pale King, David Foster Wallace menulis tentang lagu The Big Ship (yang saya salin dari esai Taufiq Rahman) sebagai berikut;

Lagu ini membuat saya merasakan kehangatan dan rasa aman, seperti ada dalam selimut, seperti seorang anak kecil baru dientaskan dari mandi dan terbungkus dalam handuk yang begitu sering dicuci sehingga terasa sangat halus, dan pada saat yang sama merasakan kesedihan; ada semacam kekosongan di pusat kehangatan itu, sama seperti kekosongan di gereja atau ruang kelas dengan begitu banyak jendela sampai Anda bisa melihat hujan di jalan dan merasa sedih, seperti di pusat kenyamanan ini ada benih kekosongan

Apa kabar, David? Benarkah ada kehidupan setelah kematian?